. PURA AGUNG PEREAN: Parhyangan Ida Bhatara Sinuhun Arya Sentong

Parhyangan Ida Bhatara Sinuhun Arya Sentong



Madya Mandala Pura Agung Perean


Meru Tumpang Lima
Bhatara dalam bahasa Sansekerta artinya 'Pelindung'
Pada zaman Kerajaan raja dianggap wakil Tuhan di Dunia, untuk melindungi umat manusia/rakyat.
Karena itu raja sering juga disebut Bhatara dan disembah oleh rakyat sebagai pelindungnya.
Setelah beliau meninggal dunia rohnya disucikan melalui suatu upacara penyucian dan setelah dianggap suci disthanakan di tempat pemujaan tertentu. Disini pun umat dapat menyembahnya karena jasa-jasa beliau dan telah suci. Sehingga sembahyangpun dapat dilakukan.
Di Jawa maupun dipulau Bali, roh suci raja dibuatkan tempat pemujaan, jika di Jawa berupa Candi dan kalau di Bali didirikan pelinggih berupa Meru. 


Arca Gajah-Pengapit Candi Bentar Jaba Sisi, Lambang Kebesaran Kerajaan Perean.

Pura Agung Perean
Berlokasi disebelah Timur Laut Puri Agung Perean, Desa Perean Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan Provinsi Bali.
Pura Agung Perean/Merajan Agung adalah Parhyangan tempat memuja kebesaran/keluhuran Raja Perean Ida Bhatara Sinuhun Arya Sentong. Dengan Pelinggih utama berupa Meru Tumpang Lima.
Disamping itu juga terdapat Pelinggih Pesimpangan Ida Bhatara Dalem Peed Nusa Penida,Taksu, Penyawangan Ida Bhatara Gunung Beratan, Menjangan Sluwang, Maospahit, Rambut Sedana, Penyawangan Ida Bhatara Gunung Agung, Ratu Panji, Pelinggih Medang Kemulan, Pengelurah, dan Pengaruman.

Mengapa Merajan Agung/Pura Agung Perean letaknya tidak berada didalam areal Puri atau terpisah dari Puri Perean (keraton Perean) ?

Dikisahkan setelah Moksahnya raja Kerajaan Perean Ida I Gusti Ngurah Pacung Shakti bergelar Ida Bhatara Pacung Shakti, singgasana kerajaan Perean jatuh ke tangan putra beliau bernama Ida Arya yang lahir dari rabi penawing (Ni luh Jepun). Dikarenakan putra mahkota beliau yang bernama Ida I Gusti Pacung Gede bersama saudara-saudaranya terlebih dahulu pergi meninggalkan jagat Perean.


Namun Ida Arya lebih memilih pindah ke Marga dan mendirikan Kerajaan Marga (Uratmara). Setelah Ida Arya berusia lanjut/lingsir, tahta Kerajaan Marga diwariskan kepada putra mahkota beliau yang bernama Ida I Gusti Agung Balangan. Sedangkan pemerintahan Kerajaan Perean diserahkan kepada seorang putri beliau bernama Ida I Gusti  Anda.
Suatu ketika Ida I Gusti  Anda berbuat kesalahan fatal melarang kakaknya Ida I Gusti Agung Balangan raja Kerajaan  Marga memasuki wilayah Keraton Perean. Walaupun I Gusti Agung Balangan datang ke Keraton Perean hanya sekedar bermaksud untuk melaksanakan persembahyangan di Merajan Agung, Kawitan beliau.
Larangan ini menimbulkan murka dari Raja Marga Ida I Gusti Agung Balangan, yang mengirim pasukan perang untuk menyerang Kerajaan Perean. Pertempuran tidak terelakkan terjadi, berakhir dengan kemenangan dipihak pasukan Kerajaan Marga.

Setelah memperoleh kemenangan serta menguasai daerah Perean, I Gusti Agung Balangan membuat langkah bijaksana, yaitu memisahkan keberadaan Merajan Agung Perean dengan Keraton Perean, tujuannya;
Supaya kelak nanti tidak terjadi kekeliruan bahwa Merajan Agung Perean adalah milik pribadi Puri Perean
saja. Akan tetapi milik seluruh warih-warih keturunan Ida Bhatara Sinuhun Arya Sentong bersama rakyat.
Untuk itu beliau memerintahkan abdinya mengerjakan sebuah jalan kecil/gang, yang membentang dari arah barat sampai timur disebelah selatan Merajan Agung atau sebelah utara dari Keraton Puri Perean, sebagai jarak/garis pemisah/pembatas antara Merajan Agung Perean dengan Puri Perean.

Nista Mandala Pura Agung Perean



Mungkin ada pertanyaan, mengapa bernama Pura Agung Perean ?  bukankah Merajan Agung ?

Merajan Agung berubah menjadi Pura Agung Perean, awalnya tahun 1950 Penglingsir Puri Agung Perean Alm Ida Anak Agung  Rai dengan dibantu Alm AA Raka Dana (Puri Saren Taman), melalui hasil Peparuman keluarga besar Puri Agung Perean melakukan pemugaran Pelinggih Merajan Agung. Dimana pembangunannya tidak merubah jumlah, bentuk, maupun tata letak Pelinggih, apa yang diwarisi terdahulunya.


Arca Candi Pemedalan

Pembangunan pelinggih-pelinggih di Merajan Agung keseluruhannya selesai tahun 1954.
Tiga tahun kemudian (1957) dilaksanakan/dihaturkan Upacara Karya Agung Ngenteg Linggih dengan pengambilan Karya Panca Wali Krama. Melibatkan pengayah dari seluruh masyarakat ( panjak Puri) diantaranya:
banjar Perean, banjar Puseh, banjar Penyucuk, banjar Bunyuh, banjar Tuka, banjar Kukub, banjar Leba, banjar Anyar, banjar Beluangan, banjar Piun, banjar Basangbe, banjar Berteh, banjar Selat dan lain-lain.

Rangakaian pelaksanaan Upacara mendem Pedagingan di Pelinggih Pejenengan / Meru Tumpang Lima Sthana Ida Bhatara Sinuhun Arya Sentong, waktu itu dibagi menjadi tiga bagian yaitu;
  1. Penglingsir Puri Agung Carangsari, mendapat mendem Pedagingan dibagian muncuk/atas Meru.
  2. Penglingsir Puri Agung Marga, mendapat mendem Pedagingan dibagian tengah Meru.
  3. Penglingsir Puri Agung Perean, mendapat mendem Pedagingan dibagian bawah/dasar Meru. 
Pada saat puncak Upacara berlangsung ....  ada seorang Pemangku mengalami  Kerawuhan/tedun, melakukan prosesi membakar tubuhnya dengan bara api.  Melalui perantara seorang Pemangku kerawuhan tersebut Ida Bhatara memberikan wejangan/micayang bawos yang isinya antara lain;
  • Merajan Agung adalah pelinggih tua usianya sama dengan berdirinya daerah yang diberi nama Perean (Perean=Perariyan, Perean=Pere/sumber mata air, Perean=Peri/wong samar)
  • Sejak saat itu parhyangan Beliau tidak lagi disebut Merajan Agung atau tepatnya mulai saat itu Merajan Agung berubah menjadi Pura Agung Perean. 

Arca Kuno-Pengapit Candi Pemedalan

Semenjak bernama Pura Agung Perean, semakin banyak warih-warih (keturunan) Ida I Gusti Ngurah Pacung / Arya Sentong yang datang pedek tangkil ke Pura Agung Perean, baik yang hanya sekedar ngaturang sembah bhakti, maupun nunas Tirta Pemarisuda (Pemuput) disaat mereka melaksanakan atau menghaturkan upacara / yadnya ditempat tinggal mereka masing-masing.



Linggih Ida Bhatara Dalem Peed
Pura Agung Perean kembali dipugar.
Menjelang akan dihaturkannya Karya Ngenteg Linggih Agung Menawa Ratna di Pura Agung Perean,
pada tahun 2002 Puri Agung Perean, Puri Agung Marga dan Puri Belayu bersama para warih-warih Arya Sentong Penyungsung Pura Agung Perean yang tersebar di Bali mengadakan Peparuman Agung. Dimana hasil keputusannya adalah memugar pelinggih Pura Agung Perean, dengan catatan tidak akan merubah jumlah, ukuran dan tata letak pelinggih yang dibangun sebelumnya.  Pembangunannya meliputi mengganti bataran pelinggih dari paras - batu bata dengan batu lahar gunung Agung Karangasem.





Pelinggih-Pelinggih Penyawangan
Karya Agung Menawa Ratna
Akhir tahun 2005 sampai dengan awal tahun 2006, Parahyangan Ida Bhatara Sinuhun Arya Sentong Pura Agung Perean dilaksanakan Upacara Karya Agung Menawa Ratna, Ngenteg Linggih, Mapeselang, Mapedudusan Agung. 
Upacara tersebut berjalan sukses atau Labda karya Sida sidaning don, berkat ayah bhakti yang tulus ikhlas  dari pasemetonan warih warih Ida Bhatara Sira Arya Sentong Pura Agung Perean yang tersebar di Bali, serta dukungan penuh masyarakat Perean dan sekitarnya.






Pengaruman



Arca Candi Bentar-Ngeranjing Ke Utama Mandala
Arca Candi Bentar-Medal














Pujawali
Pujawali / Patirtan / Piodalan di Pura Agung Perean jatuh pada hari Anggara Pahing Medangkungan, namun sesuai dengan tradisi Pujawali Ageng ( Jelih ) dilaksanakan setiap satu setengah tahun sekali, dengan rangkaian / eedan sebagai berikut;
  1. Saniscara Wage Tambir, pukul 08.00 wita. dilaksanakan upacara Nyamuh disertai mendak pakuluh ke Pura Dalem Peed Nusa Penida dan mendak pakuluh ke Pura - Pura Kahyangan Jagat. 
  2. Soma Umanis Medangkungan, tepat pukul 12.00 wita. menghaturkan Upacara Bhuta Yadnya dan pada malam harinya diadakan Upacara Nangiyang Ida Bhatara Pura Agung Perean.
  3. Anggara Pahing Medangkungan, merupakan puncak dari Pujawali, pukul 13.00 Wita - Ngiring Ida Bhatara mesucian ke Beji, yaitu Beji Pancoran Dedari / Pura Beji Melinting. Sekitar pukul 19.00 wita dihaturkannya Pujawali Ida Bhatara Pura Agung Perean.
  4. Buda Pon Medangkungan, pukul 12.00 wita. ngaturang Upacara Ida Bhatara Pura Agung Perean   Mesineb.

Relief Kuno-Belakang Aling-Aling




Pengemong Pura Agung Perean
adalah Puri Agung Perean dengan dibantu oleh Puri Ageng Marga dan Puri Belayu.
Namun banyak semeton warih-warih Ida Bhatara Sinuhun Arya Sentong selain dari Perean, Marga, dan Belayu, datang pedek tangkil ngaturang ayah secara senang hati dan tulus iklas setiap Pujawali berlangsung di Pura Agung Perean.

Pelinggih Penyawangan Medang Kemulan

Pura Agung Perean dari dulu hingga zaman sekarang masih keramat atau disucikan. Ini dibuktikan apabila ada warga masyarakat yang meninggal dunia khususnya warga yang tinggal di sekitar pelinggih Pura Agung Perean, pada saat penguburan/pengabenan tidak berjalan melalui jalan jaba sisi Pura Agung Perean.


----------------------------------------------------------------------------
Semua informasi tertulis diartikel ini merupakan hasil dari pembacaan babad Puri Perean, Marga, Carangsari serta wawancara kami dengan para penglingsir-penglingsir yang ada di Puri Perean dan Puri Marga. semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Terima kasih atas perhatiannya, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada hal-hal yang tidak berkenan dihati pembaca sekalian.